DEVIASI LINGUISTIS PADA TUTURAN PENDERITA AFASIA BROCA AKIBAT STROKE

  • Icha Fadhilasari

Abstract

Gejala utama pada penderita afasia broca adalah kesulitan dalam bertutur yang dapat terjadi dalam berbagai derajat keparahan. Penelitian ini dilakukan untuk mengungkap derajat keparahan gangguan berbahasa yang diderita seorang penderita afasia broca akibat stroke, terutama dari segi linguistiknya. Berdasarkan hal tersebut, penting untuk dikaji gangguan berbahasa yang diakibatkan oleh stroke. Hal ini dilakukan karena afasia pada penderita stroke mempunyai permasalahan penggunaan bahasa untuk berkomunikasi sehari-hari yang tidak lancar, peneliti ingin mengkaji tuturan-tuturan yang terjadi deviasi atau penyimpangan linguistik seperti bentuk fonologis, morfologis, dan sintaksis pada tuturan penderita. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) Bagaimana deviasi linguistik pada tataran fonologi pada tuturan penderita afasia broca akibat stroke, (2) Bagaimana deviasi linguistik pada tataran morfologis pada tuturan penderita afasia broca akibat stroke, dan (3) Bagaimana deviasi linguistik pada tataran sintaksis pada tuturan penderita afasia broca akibat stroke. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah dua penderita afasia broca akibat stroke iskemik dan hemoragik. Data berupa tuturan dari kedua penderita afasia broca tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, rekam, catat, wawancara dan elitasi menggunakan media gambar dan daftar pertanyaan. Data berupa tuturan kedua afasia broca akibat stroke tersebut ditranskipkan menggunakan transkipsi fonetis. Penelitian ini menghasilkan temuan berupa deviasi linguistis pada pada tuturan penderita afasia broca yang secara fonologis bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan oleh penderita afasia broca akibat stroke memang tidak seluruhnya mengalami gangguan. Terdapat 4 hal yang dilakukan kedua subjek dalam menuturkan kata-kata yang diujarkan, yaitu penghilangan atau penyederhanaan, penambahan, penggantian, dan ketidakberaturan. Hal tersebut membuat lawan tutur maupun pendengar yang lain kemungkinan tidak memahami apa yang dituturkan oleh kedua subjek. Kedua subjek tidak konsisten dalam pengucapan bunyi dan terkadang memproduksi bunyi-bunyi tidak jelas. Secara morfologis ada beberapa deviasi yang teridentifikasi dalam penelitian. Deviasi morfologis yang dialami kedua subjek yaitu mengenai penggunaan afiksasi dalam tuturannya yang meliputi, prefiks dan sufiks saja, selanjutnya penggunaan reduplikasi, bentuk dasar, dan konjungsi. Tidak banyak deviasi morfologis yang dilakukan karena subjek lebih sering menggunakan bentuk dasar. Klitika, partikel, kata penunjuk, interjeksi masih dihasilkan dengan baik dalam tuturan kedua subjek. Secara sintaksis, hal yang paling menonjol dari kemampuan sintaksis kedua penderita adalah pelesapan unsur subjek., kedua subjek lebih sering menggunakan kalimat sederhana. Deviasi sintaksis yang sering dilakukan kedua subjek diantaranya ambiguistas kalimat yang dituturkan. Kata Kunci: Deviasi lingusitik, tuturan, afasia broca akibat stroke.
Published
2017-07-10