Program Desa Berdaya Melalui Pengelolaan Keuangan Produk Lapak Desa Di Desa Kebontunggul Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto

 Abstract views: 29 ,  downloads: 21
  • aji prasetyo Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
  • Sugijanto Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
  • Yuni Sukandani Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
  • Siti Istikhoroh Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
Keywords: desa berdaya, lapak desa, pengelolaan keuangan, desa Kebontunggul

Abstract

Desa Kebontunggul Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto berkeinginan menjadi desa berdaya yang diawali dengan berhasilnya menumbuhkan potensi wisata berupa Lembah Mbencirang. Peran serta masyarakat desa merupakan kunci utama terwujudnya pemberdayaan ekonomi desa. Lapak-lapak desa merupakan perwujudan adanya peran serta masyarakat dalam menuju Program Desa Berdaya. Perlu adanya pengelolaan yang baik terhadap lapak-lapak desa untuk mewujudkan pemberdayaan desa yang optimal. Dalam rangka Tri Dharma Perguruan Tinggi, tim dosen Universitas PGRI Adi Buana Surabaya tergerak untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat. Tujuan dari program ini adalah agar Desa Kebontunggul dapat mengoptimalkan produk lapak desa dengan pengelolaan keuangan yang sistematis guna menuju desa berdaya dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah Desa Kebontunggul mempunyai produk unggulan jamu organik tunggul manik yang pemasarannya hampir di seluruh kota dan kabupaten di Jawa Timur, dan juga merupakan salah satu desa pemasok sayuran-sayuran segar di supermarket di Kota Mojokerto, selain itu juga banyak pemesanan bibit sayuran dari kabupaten lain seperti Kabupaten Sidoarjo, Gresik, dan Kota Surabaya. Masyarakat desa ini juga memiliki lapak desa yang cukup optimal di kawasan wisata Lembah Mbencirang. Adanya wisata ini memberikan pasar baru bagi masyarakat dalam bentuk foodcourt dan pusat oleh-oleh untuk menjual produk unggulan masyarakat setempat seperti Kripik Tortilla Jagung, Sirup Secang, Jamu Kunyit Asam dan lain-lain. Pengelolaan keuangan masyarakat desa Kebontunggul melalui lapak desa dilakukan dengan memahami dan mempraktikkan konsep Harga Pokok Penjualan (HPP) dan Break Event Point (BEP). Dengan memahami HPP dan nilai BEP, masyarakat akan mengetahui seberapa besar target penjualan produknya dalam satu bulan agar dapat balik modal dan berapa target penjualan produk agar memperoleh keuntungan yang diinginkan. Semakin banyak keuntungan yang diperoleh masyarakat, tentunya semakin menambah pendapatan desa Banjarsari yang berdampak pada kesejahteraan dan kesuksesan desa Banjarsari menjadi desa berdaya

Downloads

Download data is not yet available.

References

Al-Karawangi, A. 2019. “Fasilitas Foodcourt Tambah Daya Tarik Kawasan Wisata Lembah Mbencirang” dalam https://www.indonesiana.id/read/134248/fasilitas-foodcourt-tambah-daya-tarik-kawasan-wisata-lembah-mbencirang.

Arif, M. 2007. Tata Cara Pengelolaan Keuangan Desa Dan Pengelolaan Kekayaan Desa Pekanbaru. ReD Post Press.

BPKP. 2015. Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan & Konsultasi Pengelolaan Keuangan Desa. Deputi Bidang Pengawasan Penyelenggaraan Keuangan Daerah.

Hansen. 2006. Akuntansi Manajemen. Jakarta: Salemba Empat.

Kuswadi. 2005. Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.

Maghfiroh, N. L. 2018. Strategi Pengembangan Obyek Wisata Edukasi Lembah Mbecirang di Desa Kebontunggul Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto. Swara Bhumi, 5 (7).

Rumah Zakat. 2020. “Desa Berdaya” dalam https://desaberdaya.id/.

TKPK Jatim. 2020. “Desa Berdaya” dalam http://tkpk.jatimprov.go.id/projects/desa-berdaya/.

Widyastuty, A. A. S. A., et al. 2019. Pemberdayaan Pemuda Karang Taruna Melalui Program Remaja Peduli Lingkungan Desa Wisata Kebontunggul. Penamas Adi Buana, 3 (1).

Published
2020-06-01
Section
Articles