KAJIAN CAPITAL FLIGHT DI INDONESIA

 Abstract views: 325 ,  downloads: 938
  • Bisma Arianto Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Abstract

Serangkaian pertemuan dan perundingan maupun perjanjian berskala global, berusaha merumuskan dan mewujudkan skema terbaik ataupun mendekati sempurna, untuk proses globalisasi, sembari tetap berpegang pada prinsip-prinsip keadilan. Negara Indonesia yang termasuk negara dunia ketiga, sering dipaksa menelan pil pahit, bahkan timbangan terkadang berat sebelah, globalisasi dengan pasar bebasnya hanya sebatas masalah yang datang dari negara maju ke negara belum maju. Dalam kurun waktu tertentu utang luar negeri (LN) pemerintah (public foreign debt) sudah menjadi salah satu sumber ancaman bagi stabilitas ekonomi makro, baik melalui tekanan defisit fiskal, ketimpangan distribusi sosial dalam APBN maupun tekanan atas cadangan devisa.
Beberapa negara berkembang memiliki dana di luar negeri yang sebenarnya cukup untuk meng-offset utang-utang negara mereka. Di Indonesia, jika seluruh capital flight kembali ke dalam negeri, kalangan ekonom berpendapat bahwa pemerintah tidak lagi membutuhkan bantuan luar negeri, karena selama periode krisis 1997-1999 telah terjadi pelarian modal sekitar US$ 80 milyar. Sementara nilai komitmen bantuan IMF Indonesia untuk Indonesia hanya US$ 43 milyar dan pencairannya diangsur selama 5 tahun. Capital flight menimbulkan masalah, yaitu terhambatnya pertumbuhan ekonomi karena investasi yang seharusnya memiliki multiplier effect di dalam negeri justru dilakukan di luar negeri. Selain itu, keterbatasan dana mengurangi impor yang dapat dilakukan, yang berarti semakin sedikit pula marginal propensity to import (and to consume) dari masyarakat. Permasalahan lain yang menyebabkan terganggunya pertumbuhan ekonomi adalah earning dan perolehan yang didapat dari investasi tersebut tidak di-repatriate sehingga menjadi perolehan di negara tempat berinvestasi. Secara makro, yang terjadi kemudian adalah keadaan negara yang default (tidak mampu membayar utangnya), sehingga sulit untuk mendapat pinjaman baru ketika pembiayaan dalam negeri tidak lagi cukup.
Dalam mengantisipasi adanya capital flight di Indonesia adalah dengan mengendalikan jumlah uang yang beredar dan atau suku bunga melalui operasi pasar terbuka dengan menerbitkan SBI oleh Bank Indonesia, mengendalikan fluktuasi nilai rupiah terhadap mata uang asing (khususnya US$) yang stabil akan sangat mempengaruhi iklim investasi di dalam negeri, mengendalikan laju peningkatan inflasi, dan mempertahankan cadangan devisa oleh otoritas moneter.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Anderson, Sarah.1998. “International Capital Flows”. Wall Street Journal Vol. 2. No. 34.
Appleyard, Dennis R and Alfred J. Field Jr. 1995. Internasional Economics. Second Edition. New York: Irwin.
Boediono. 1993. Ekonomi Makro. Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No. 2. Yogyakarta: BPFE.
________. 1994. Ekonomi Moneter. Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No. 5. Edisi Ketiga. Yogyakarta: BPFE.
Drajad H. Wibowo.2005. Hutang Indonesia. http//www.google.com.
Dornbusch, Rudiger, Stanley Fischer dan Startz Richard. 1998. Macroeconomics. Seventh Edition. United States of America: McGraw-Hill.
Dumairy, 1997. Perekonomian Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga.
FX. Sugiyono. 2004. Instrumen Pengendalian Moneter: Operasi Pasar Terbuka. Seri Kebanksentralan No.10. Jakarta: PPSK Bank Indonesia.
Gujarati, Damodar N. 1995. Basic Econometrics. Third Edition. Singapore: McGraw-Hill International Edition.
Hill, Charles W.L. 2003. International Business: Competing in The Global Market Place. New York: Mc Graw Hill.
Iskandar Simorangkir dan Suseno. 2004. Sistem dan Kebijakan Nilai Tukar. Seri Kebanksentralan No.12. Jakarta: PPSK Bank Indonesia.
Julianery. B.E. 2002. Indonesia Dalam Krisis 1997-2002: Cadangan Devisa Kriddibilitas Negara di Mata Kreditor. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.
Krugman, Paul R and Maurice Obstfeld, 1999. Ekonomi Internasional: Teori dan Kebijakan. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa.
Laporan Tahunan Bank Indonesia, berbagai Edisi. Jakarta: Bank Indonesia.
Lensink, Robert, Niels Hermas and Victo Murinde. “Capital Flight and Political Risk”. The Journal of Internasional Money and Finance, January 2000, 19,pp 73-92.
Mankiw, Gregory N. 2000. Teori Ekonomi Makro (terjemahan). Edisi Keempat. Jakarta: Erlangga.
Perry, Warjiyo. 2004. Bank Indonesia: Sebuah Pengantar. Jakarta: PPSK Bank Indonesia.
Salvatore, Dominick, 1996. International Economics. New Jersey: Prentice Hall Inc.
Samuelson, Paul A dan Nordhaus, William D. 1995. Makroekonomi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Schineider, 2003, Measuring Capital Flight: Estimation and Interpretations.
Scineller, Lisa M,1997. “An Econometric Model of Capital Flight from Developing Countries”. Federal Reserve Board. International Discussion Paper No. 594.
Sukirno, Sadono, 2005, Makro Ekonomi: Teori Pengantar, Jakarta: Rajawali Print.
Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia (SEKI), berbagai Edisi. Jakarta: Bank Indonesia.
Tandelilin, Eduardus. 2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Yogyakarta: BPFE.
Published
2018-01-10
How to Cite
Arianto, B. (2018). KAJIAN CAPITAL FLIGHT DI INDONESIA. Majalah Ekonomi, 18(2), 1 - 12. Retrieved from http://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/majalah_ekonomi/article/view/1128
Section
Artikel