KEGELISAHAN KULTURAL KOTA SURABAYA DALAM PUISI
DOI:
https://doi.org/10.36456/bastra.vol13.no1.a11385Keywords:
puisi, kegelisahan kultural, kapital, spiritualAbstract
Kota Surabaya terus berkembang dari waktu ke waktu. Jumlah penduduk, pembagian wilayah, juga tempat-tempat untuk hunian dan usaha semakin meningkat. Permasalahan yang dihadapi Kota Surabaya pun semakin kompleks. Para penyair, baik sebagai warga kota maupun bukan, ikut mengamati dan merasakan berbagai problem kultural. Kesaksian sosial itulah yang menjadikan banyak penyair, baik secara personal maupun bersama, menerbitkan buku kumpulan puisi terkait problem di Kota Surabaya. Problem-problem kemasyarakatan tersebut mengarah pada kegelisahan kultural. Problem di Kota Surabaya dipandang dari sisi ketimpang sosial, ibarat potret dengan warna buram, terjadi kegelisahan pada masyarakat kecil, arus kapitalisme yang mengikis segi-segi kultural, hunian, lingkungan alam, serta spiritual.
References
Abrams, M.H.(1971). 25th edition. The Mirror and the Lamp: Romantic Theory and the
Critical Tradition. London: Oxford University Press.
Eco, U. (2016). Teori Semiotika (Terjemahan Inyiak Ridwan Muzir). Bantul: Kreasi
Wacana.
Farid, H. (2025). “Merawat Ingatan, Memetakan Perlawanan”. 100 Tahun Pramoedya Ananta
Toer. Sastra, Politik Narasi, dan Kemanusiaan. Anoegrajekti, N. ed, dkk. Jakarta: HISKI.
Hutomo, S.S. (1997). Ziarah ke Dunia Penyair. Surabaya: Yayasan Mitra Alam Sejati.
Junus, U. (1989). Fiksyen dan Sejarah Suatu Dialog. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa
dan Pustaka - Kementerian Pendidikan Malaysia.
Kusniawan, S. (2011). Representasi Surabaya dalam Antologi Puisi Kitab Syair Diancuk
Jaran Karya Indra Tjahyadi (Skripsi). Surabaya: Universitas Airlangga.
Luxemburg, J.v, Bal, M., Weststeijn, W.G. (1986). Pengantar Ilmu Sastra (terjemahan Dick
Hartoko). Jakarta: PT Gramedia.
Mudofarima. (2013). Identitas Surabaya dalam Antologi Puisi Wong Kam Pung Karya F. Aziz
Manna (Skripsi). Surabaya: Universitas Airlangga.
MacNulty. (1977). Modes of Literature. Boston: Houghton Mifflin Company.
Mitchell, W.J.T. (1995). “Represention”. In Frank Lentricchia and Thomas McLaughlin
(Eds.) Critical Terms for Literary Study. Second Edition. Chicago: University of Chicago Press.
Pond, P. (2020). Complexity, Digital Media and Post Truth Politics: A Theory of Interactive
Sytems. 1st ed. London: Palgrave Macmillan, Cham. 29-50. https://doi.org/10.1007/978-3-030-44537-9_2.
Ratna, N.K.(2003). Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta Pustaka Pelajar.
Said, E.W. (2001). Orientalisme (Penerjemah Asep Hidayat). Bandung: Penerbit Pustaka.
Sayuti, S.A. (2008). Berkenalan dengan Puisi. Yogyakarta: Gama Media.
Tariq. A., Williams, J., & Chen, M. (2025a). Dystopian Literature as Political Allegory.
Journal of Literary Futures, 12 (1), 22-40 .
Tariq. A., Sachdev, S., Sharma, N., Dindsa, J.S. (2025b). Dystopian Literature as Political
Allegory: How Contemporary Works Reflect and Critique Modern Societies. Vegueta. Anuario de la Facultad de Geografía e Historia 25 (1), 2025.
Teeuw. (1984). Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Wulandani, A.C. (2014). Representasi Surabaya dalam Kumpulan Puisi Surabaya Musim
Kemarau Karya Aming Aminoedhin (Skripsi). Surabaya: Universitas PGRI Adi
Buana.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Buana Bastra: Bahasa, Susastra, dan Pengajarannya

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.










