DEKONSTRUKSI PENOKOHAN KRESNA DALAM PERGELARAN WAYANG KULIT LAKON SEMAR KUNING DAN SEMAR MBANGUN KAYANGAN

Authors

  • Pana Pramulia Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

DOI:

https://doi.org/10.36456/bastra.vol9.no2.a6977

Keywords:

Dekonstruksi, Wayang kulit, Kresna, Semar

Abstract

Wayang kulit merupakan media tuntunan bagi masyarakat, sehingga dalam cerita wayang kulit tidak hanya membeberkan persoalan cinta-kasih atau kedurhakaan, melainkan tentang ajaran-ajaran luhur, hukum sebab-akibat, perpolitikan negara, persoalan yang dihadapi masyarakat, dan sebagainya. Pada era postmodern ini, banyak bermunculan dalang-dalang yang menggubah dan mendekonstruksi cerita wayang. Cerita wayang tidak hanya berpaku pada cerita konvensional, tetapi telah digubah sedemikian rupa atau telah digali dari sudut pandang berbeda. Lakon Semar Kuning dan Semar Mbangun Kayangan merupakan dua lakon di antara banyak lakon yang bisa dijadikan media refleksi dan perenungan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan kehidupan. Dua cerita tersebut merupakan hasil dari dekonstruksi dalang terhadap penokohan Kresna. Teknik pengumpulan data yang digunakan dengan cara menyalin rekaman untuk mempermudah proses transkrip. Berdasarkan analisis menggunakan teori dekonstruksi pada dua lakon tersebut ditemukan maksud-maksud tersembunyi yang disampaikan melalui teks yang telah ditranskripsi dari cerita yang dilisankan.

References

Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra, edisi revisi. FBS Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta: Buku kita.

Hidayat, Medhy Aginta. 2012. Menggugat Modernisme: Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisem Jean Baudrillard. Yogyakarta: Jalsutra.

Hutomo, Suripan Sadi. 1991. Mutiara Yang Terlupakan, Pengantar Studi Sastra Lisan. Surabaya: HISKI, Komisariat Jawa Timur.

O’Donnell, Kevin. 2009. Postmodernisme. Yogyakarta: Kanisius.

Purwadi, Dr. 2009. Pengkajian Sastra Jawa. Yogyakarta: Pura Pustaka.

Sidhunata. 2003. Anak Bajang Menggiring Angin. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Sujamto. 1995. Wayang dan Budaya Jawa. cetakan ketiga, cetakan pertama tahun 1992. Semarang: Dahara Prize.

Downloads

Published

2022-10-20