ANALISIS PERBANDINGAN MAKNA SIMBOLIS PADA RIASAN PENGANTIN JOGJA PUTRI DAN PENGANTIN SOLO PUTRI
DOI:
https://doi.org/10.36456/r32a9s65Keywords:
makna, riasan, pengantinAbstract
Makna yang tersirat dari suatu kata tidak hanya merujuk pada objek, peristiwa, atau keadaan tertentu. Oleh karena itu, kita tidak dapat memperoleh makna kata tersebut hanya dari konteksnya saja.. Makna simbolis dalam riasan pengantin Jogja Putri dapat bervariasi tergantung pada tradisi dan nilai-nilai keluarga serta pilihan pengantin. Setiap riasan pengantin Solo Putri dapat memiliki makna simbolis yang unik, tergantung pada preferensi dan nilai-nilai pribadi dari pengantin, serta tradisi keluarga. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan makna simbolis pada riasan pengantin jogja putri dan solo putri dengan menggunakan pendekatan kualitatf deduktif, pengumpulan data dengan wawancara dan srudi kasus. Hasil analisis data riasan pengantin jogja putri dan pengantin solo putri, pada pengantin jogja putri memiliki makna derajat tertinggi bagi seorang perempuan setelah menikah, pengapit sebagai pengedali dan tetap pada posisi tengah atau tidak mudah goyah, penitis bahwa segala sesuatu harus memiliki tujuan yang efektif, godeg agar wanita senantiasa tidak tergesa-gesa dan instropeksi diri, citak artinya diharapkan wanita menjadi sosok yang cerdas dan berakhlak. Pada solo putri gajahan soerang perempuan diharapka dapat ditinggikan derajatnya, pengapit seberat apapun rintangan diharapkan wanita bisa melewatinya, penitis bahwa rumah tangga harus mempunyai tujuan. Penelitian ini dapat dijadikan referensi belajar bagi mahasiswa pada mata kuliah pengantin nusatara, bagi para perias dapat dijadikan sebagai pengembangan pembelajaran guna untuk mendapatkan wawasan lebih serta bagi masyarakat dapat dijadikan sebagai referensi pengetahuan dan wawasan mengenai makna simbolis riasan pada pengantin jogja putri dan pengantin solo putri.
References
KBBI, (2008:846). Makna didefinisikan sebagai maksud yang ingin disampaikan oleh pembicara atau penulis, atau dapat pula diartikan sebagai pengertian yang terkandung dalam suatu ungkapan bahasa.
Martha (2010:102). Menjelaskan bahwa tata rias pada bagian dahi pengantin wanita secara umum dikenal dengan istilah paes.
Nuraini, I., Fatmasari, F. H., Mukti, R. A., & Rahayu, E. P. (2024). EFEKTIVITAS PENGGUNAAN CONTOUR DALAM KOREKSI BENTUK WAJAH PERSEGI, SEGITIGA TERBALIK, DAN BULAT PADA RIASAN PENGANTIN MUSLIM MODERN. BUGARIS, 1(1), 48-56.
Saryoto, (2012:60). Menyatakan bahwa tata rias pengantin khas Solo dikenal dengan ciri khasnya yang halus dan memiliki nuansa warna kekuningan. Praktik ini terinspirasi oleh kecantikan para putri raja atau bangsawan yang memiliki kulit halus, bersih, dan berkilau kuning, hasildari perawatan kecantikan yang tekun.
Susilowati, S., Fatmasari, F. H., Evawati, D., & Nuroctavia, A. (2023). The Influence of Learning Activities, PPT Media with Video Tutorials on Student Learning Outcomes at SMKN 8 Surabaya. Asian Journal of Engineering, Social and Health, 2(9), 1087-1101.
Anjaila, S., Susilowati, S., & Fatmasari, F. H. (2024). Minat Masyarakat Terhadap Busana Pesta Anak Menggunakan Sulam Borci Mutiara dan Kristal. MARAS: Jurnal Penelitian Multidisiplin, 2(3), 1640-1645.
Sugiyono, (2019). Menyebutkan bahwa proses penarikan kesimpulan dan verifikasi data dalam penelitian seringkali menggunakan Model Analisis Data Miles dan Huberman.
Tienuk rifki, (2012), Berpendapat bahwa corak tata rias pengantin Jogja Putri, beserta tata cara pernikahan adat Yogyakarta secara keseluruhan, merupakan bagian dari rangkaian budaya luhur yang perlu dilestarikan dan diwariskan maknanya
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2024 BUGARIS

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.




