Formulasi dan Karakterisasi Nanokrim Ekstrak Bawang Hitam (Black Garlic)
DOI:
https://doi.org/10.36456/fs12nf26Keywords:
ekstrak bawang hitam, formulasi, karakterisasi, nanoemulsi, nanokrimAbstract
Pendahuluan: Salah satu sediaan topikal yang digunakan untuk pengobatan jerawat adalah sediaan krim. Namun sediaan krim tidak dapat menghantarkan zat aktif sampai ke bagian infra infundibulum yang terletak di lapisan kulit dermis tempat bakteri penyebab jerawat berada. Nanokrim merupakan sediaan krim dengan sistem nanoemulsi untuk meningkatkan penghantaran zat aktif. Tujuan: Mengetahui pengaruh kosurfaktan terhadap ukuran partikel yang didapatkan dan kestabilan sistem nanoemulsi yang dibuat menggunakan metode low-energy spontaneous emulsification dan menentukan rancangan formula optimum sediaan nanokrim. Metode: Pengujian meliputi skrining fitokimia ekstrak bawang hitam, optimasi formula dan karakterisasi sediaan. Hasil: Skrining fitokimia ekstrak bawang hitam positif mengandung senyawa alkaloid, tanin, saponin, triterpenoid, flavonoid dan polifenol. Dari hasil karakterisasi fisik didapatkan nanoemulsi tipe minyak dalam air yang jernih dengan persen transmittan F1 = 99,24 persen; F2 = 99,27 persen; F3 = 99,27 persen, ukuran partikel F1 = 15,98 nm; F2 = 15,78 nm; F3 = 15,91 nm, indeks polidispersitas F1 = 0,0747; F2 = 0,0504; F3 = 0,0626 dengan nilai pH F1 = 4,63; F2 = 4,62; F3 = 4,59 dan dari uji One Way ANOVA dan Kruskall-Wallis, didapatkan nilai p > 0,05. Nanokrim yang dihasilkan memiliki tipe M/A, nilai pH = 6,02, viskositas 14028 – 49194 cPs, tipe aliran pseudoplastik, daya sebar 6,2 cm, dan waktu daya lekat 02.11 detik. Kesimpulan: Secara keseluruhan, kosurfaktan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil karakterisasi fisik nanoemulsi. Nanoemulsi F2 dengan konsentrasi kosurfaktan 5,5 persen merupakan formula optimal. Namun formulasi sediaan nanokrim dengan emulgator TEA dan asam stearat dalam penelitian ini kurang optimum.
Pendahuluan: Salah satu sediaan topikal yang digunakan untuk pengobatan jerawat adalah sediaan krim. Namun sediaan krim tidak dapat menghantarkan zat aktif sampai ke bagian infra infundibulum yang terletak di lapisan kulit dermis tempat bakteri penyebab jerawat berada. Nanokrim merupakan sediaan krim dengan sistem nanoemulsi untuk meningkatkan penghantaran zat aktif. Tujuan: Mengetahui pengaruh kosurfaktan terhadap ukuran partikel yang didapatkan dan kestabilan sistem nanoemulsi yang dibuat menggunakan metode low-energy spontaneous emulsification dan menentukan rancangan formula optimum sediaan nanokrim. Metode: Pengujian meliputi skrining fitokimia ekstrak bawang hitam, optimasi formula dan karakterisasi sediaan. Hasil: Skrining fitokimia ekstrak bawang hitam positif mengandung senyawa alkaloid, tanin, saponin, triterpenoid, flavonoid dan polifenol. Dari hasil karakterisasi fisik didapatkan nanoemulsi tipe minyak dalam air yang jernih dengan persen transmittan F1 = 99,24 persen; F2 = 99,27 persen; F3 = 99,27 persen, ukuran partikel F1 = 15,98 nm; F2 = 15,78 nm; F3 = 15,91 nm, indeks polidispersitas F1 = 0,0747; F2 = 0,0504; F3 = 0,0626 dengan nilai pH F1 = 4,63; F2 = 4,62; F3 = 4,59 dan dari uji One Way ANOVA dan Kruskall-Wallis, didapatkan nilai p > 0,05. Nanokrim yang dihasilkan memiliki tipe M/A, nilai pH = 6,02, viskositas 14028 – 49194 cPs, tipe aliran pseudoplastik, daya sebar 6,2 cm, dan waktu daya lekat 02.11 detik. Kesimpulan: Secara keseluruhan, kosurfaktan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil karakterisasi fisik nanoemulsi. Nanoemulsi F2 dengan konsentrasi kosurfaktan 5,5 persen merupakan formula optimal. Namun formulasi sediaan nanokrim dengan emulgator TEA dan asam stearat dalam penelitian ini kurang optimum.





