KONSEP KETUHANAN DALAM PANDANGAN MASYARAKAT NGADA

Tinjauan Filosofis Sila Pertama Pancasila

 Abstract views: 308

Authors

  • Emanuel katarino mbeo Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Widya Sasana, Malang
  • Viktorius Baju Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Widya Sasana, Malang
  • Pius Pandor Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Widya Sasana, Malang

DOI:

https://doi.org/10.36456/b.nusantara.vol6.no2.a7994

Keywords:

Ngada, Ngada Society, pancasila, deity, public, indonesia

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk memperkenalkan suatu konsep Tuhan menurut orang Ngada, sebelum dipengaruhi oleh agama-agama besar dunia.  Konsep ketuhanan ini dapat dikatakan sebagai bagian dari konsep yang berkontribusi pada sila pertama Pancasila. Tulisan ini berfokus pada empat poin penting yakni; panggilan atau sebutan, serta peran Tuhan dalam kehidupan konkrit, pengakuan adanya Tuhan dalam bentuk bangunan, dan salah satu pengakuan adanya Tuhan yang diaktualisasikan dalam upacara adat orang Ngada, serta kaitannya dengan Pancasila. Metode yang digunakan adalah kualitatif yang bersumber pada studi kepustakaan. Ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan yakni; Pancasila merupakan hasil dari kristalisasi nilai primordial, sejak zaman purba bangsa Indonesia adalah bangsa yang ber-Tuhan, dan nilai-nilai Pancasila tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Pancasila sebagai satu kesatuan nilai yang mempersatukan perbedaan dan harus dipertahankan. Dari konsep ketuhanan dalam masyarakat Ngada, suatu penemuan yang menarik bahwa Pancasila pada hakikatnya berbasis pada budaya bangsa Indonesia sendiri, dan bukan berasal dari budaya atau bahkan kepercayaan tertentu. Pancasila tidak dapat dimonopoli atau diklaim sebagai milik dari suku, ras, agama dan bangsa tertentu.

Downloads

Download data is not yet available.

Downloads

Published

2023-09-29

How to Cite

Emanuel katarino mbeo, Viktorius Baju, & Pius Pandor. (2023). KONSEP KETUHANAN DALAM PANDANGAN MASYARAKAT NGADA: Tinjauan Filosofis Sila Pertama Pancasila. Jurnal Budaya Nusantara, 6(2), 314–323. https://doi.org/10.36456/b.nusantara.vol6.no2.a7994