TRADISI ATA PE'ANG DAN ATA ONE DI MANGGARAI: ALIENASI TERHADAP PEREMPUAN
DOI:
https://doi.org/10.36456/JBN.vol8.no2.11022Keywords:
Ata Pe’ang, Ata One, Manggarai, Discrimination Against Women, Gender EqualityAbstract
Di Manggarai, ada sebuah tradisi ata pe’ang dan ata one yang memberi semacam legitimasi alienasi terhadap perempuan. Jika diterjemahkan secara harafiah, Ata=orang, Pe’ang=luar. Ata pe’ang artinya orang luar. Ata one artinya orang dalam. Ata pe’ang (orang luar) merujuk pada perempuan. Sedangkan Ata one (orang dalam) merujuk pada laki-laki. Secara tidak langsung, tradisi ini menempatkan perempuan sebagai second class atau orang luar. Secara adat, perempuan dialienasi atau barangkali tidak “dianggap” keberadaannya. Tulisan singkat ini bertujuan untuk mengkritisi tradisi Ata Pe’ang dan Ata One di Manggarai yang hemat penulis sangat diskriminatif, terutama kepada perempuan. Diskriminasi karena tradisi ata pe’ang dan ata one di Manggarai adalah konstruksi sosial budaya yang berimplikasi pada kedudukan sosial, kebebasan menentukan nasib, dan peran dalam hal publik maupun domestik. Lebih dari pada itu, eksistensi seorang perempuan di Manggarai sudah mulai teralienasi ketika dia dilahirkan di dunia ini. Penulis menggunakan metode kualitatif, yaitu studi kepustakaan dengan mencari berbagai bahan literatur di perpustakaan. Hasilnya menunjukkan bahwa tradisi ata pe’ang dan ata one di Manggarai adalah bentuk alienasi yang meminggirkan perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil ini mengafirmasi sebuah upaya rekonstruksi atau membaca ulang tradisi tersebut yang mengabaikan prinsip kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di Manggarai. Hal ini adalah langkah solutif demi terciptanya kesetaraan gender.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Jurnal Budaya Nusantara

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.











