PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KECUBUNG GUNUNG (Brugmansia soaveolens) SEBAGAI BIOINSEKTISIDA TERHADAP KEMATIAN HAMA ULAT GRAYAK (Spodoptera exiqua) PADA TANAMAN SAWI DAGING (Brasica rapa var chinensis)
DOI:
https://doi.org/10.36456/stigma.vol8.no01.a252Abstract
Daun kecubung gunung (Brugmansia Soaveolens) merupakan salah satu bioinsektisida berpotensi untuk diterapkan dalam membasmi ulat grayak (Spodoptera Exiqua). Penelitian ini bertujuan untuk menemukan takaran optimal penggunaan ekstrak daun kecubung gunung untuk hama ulat grayak pada tanaman sawi daging (Brassica rapa var. chinensis). Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan konsentrasi ekstrak daun kecubung (0, 2, 4, dan 6%) yang diulang 6 kali sebagai bioinsektisida terhadap kematian ulat grayak (Spodoptera Exiqua). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 480 ulat grayak (Spodoptera Exiqua). Analisis data kematian ulat grayak dilakukan menggunakan analisis varian 2 arah yang dilanjutkan analisis regresi untuk konsentrasi letal 50 (LC50). Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun kecubung gunung berpengaruh signifikan (P<0,05) terhadap kematian ulat grayak (Spodoptera Exiqua) dengan konsentrasi letal 50 sebesar 3,77%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak daun kecubung gunung tidak berpengaruh signifikan (P>0,05) terhadap hasil panen sawi daging (Brassica rapa var. chinensis).References
Aji, W. 2009. Fisiologi Tanaman Sawi Sendok.http:
//unimed.academia.edu/Fisiologi_tanaman_saw i_sendok. (12 Januari 2012).
Anonim. 2006. Pestisida untuk Pertanian dan
Kehutanan. Depatemen Pertanian Republik
Indonesia.
Baehaki, Dr. Ir. SE. 1993. Insektisida Pengendalian
Hama Tanaman. Angkasa, Bandung.
Beattle, GAC; O. Nicetic, AS. Kalianpur dan Z. Hossain. 2004. Managing Resistance with Horticultural
ISSN 1412 - 1840
Mineral Oils. Some Example from Different Crop. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Management Resistensi Pestisida dalam Penerapan Pengelolaan Hama Terpadu. UGM, Yogyakarta, 24-25 Februari 2004.
Betram G. Katzung. Farmakologi Dasar dan Klinik. 2004. EGC. Jakarta .Botani. Diunduh tanggal 25 September 2011.
Duke, S.O. 1990. Natural Pesticides from Plants. p. 511-517 Di dalam: J.Janick and J.E Simon (ed.). Advances In New Crops. Timber Press, Portland.
Ekha isvasta. 1988. Dilema Pestisida. Yogyakarta: Kanisius
Flint, Mary Louis dan Robert Bosch. 1991. Pengendalian Hama Terpadu, Sebuah Pengantar. Edisi terjemahan Indonesia, Kanisius, Yogyakarta.
Girsang, Warlinson. 2009. Dampak Negatif Penggunaan Pestisida. Pematang Siantar : Disertasi Universitas Simalungun.
Habazar, Prof. Dr. Ir. Trimurti, dan Dr. Ir. Yaherwandi Msi. 2006. Pengendalian Hayati Hama dan Penyakit Tumbuhan. Andalas University Press, Padang.
Harianto, E.T. Suhartini dan E, Rahayu. 1995. Sawi dan Selada, Penebar Swadaya, Jakarta.
Kartasapoetra,AG. 1993. Hama Tanaman Pangan dan Perkebunan. Jakarta: Bumi Aksara.
Lakitan, B. 2004. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Rajagrafindo Persada.
Leiwakabessy, F.M. 2003. Kesuburan Tanah. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Novizan, 2002, Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan, Agro Media Pustaka, Jakarta Rukmana, R, 1994, Bertanam Petsai dan Sawi, Kanisius,
Yogyakarta
Samsudin, MSi (Dir. LPS-DD).2008. Pengendalian Hama dengan Insektisida Botani. Jakarta: Bumi Aksara.
Sutjihno. 1986. Pengantar Rancangan Percobaan Penelitian Pertanian Pangan. Bogor: Balitbang Tanaman Pangan.Swadaya, Jakarta
Tarumingkeng, Rudy C. 1992. Insektisida; Sifat, Mekanisme Kerja dan Dampak Penggunaannya. UKRIDA Press. 250 p.
Vorizan Ir. 2002. Petunjuk Pemupukan Yang Efektif. Penerbit PT. AgroMedia Pustaka Depok Jawa Barat.










