UJI EFEKTIFITAS DAYA HAMBAT SARI DAUN PEGAGAN (Centella asiatica) DAN DAUN BELUNTAS (Pluchea indica Less) TERHADAP PERTUMBUHAN Mycobacterium tuberculosis

Authors

  • Susie Susie Amilah
  • Purity Salbila Ajiningrum

DOI:

https://doi.org/10.36456/stigma.vol8.no02.a253

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektifitas daya hambat sari daun pegagan (Centella asiatica) dan sari daun beluntas (Pluchea indica Less) terhadap pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis. Masing-masing sebanyak 10.000 gr daun pegagan dan daun beluntas diekstraksi dan diproses dengan teknik maserasi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan konsentrasi yang meliputi 20, 40, 60, 80, 100, dan 120mg/100ml dengan 4 kali ulangan. Masing-masing konsentrasi ditambahkan 1 mata ose suspensi bakteri M. tuberculosis. Hasil uji menunjukkan efektifitas antara sari daun pegagan dan sari daun beluntas berbeda signifikan (P<0,05) dalam menghambat pertumbuhan M. tuberculosis. Pada konsentrasi 100 dan 120 mg/100ml sari daun pegagan dapat membunuh pertumbuhan M. tuberculosis, sedangkan pada sari daun beluntas dari beberapa konsentrasi hanya dapat menghambat pertumbuhan M. tuberculosis. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sari daun pegagan lebih efektif dibandingkan sari daun beluntas.

References

Ardiansyah, L. Nuraida, dan N. Andarwulan. 2002. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Beluntas (Pluchea indica Less.). Prosiding Seminar Tahunan PATPI. Malang. Arya, V. 2011. A Review on Anti-Tubercular Plants. International Journal of Pharm Tech Research. 3(2): 872-880.

Dalimartha, S. 1999. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 1 (1st ed. ed.). Trubus Agriwidya. Jakarta.

Damayanti. 2006. Kandungan Tanaman Obat Herbal. Trubus. Bogor. Hassan, F., dan Naeem, I. 2014. Biological Activity of Viola odorata Linnagainst Mycobacterium tuberculosis. International Journal of Pharma and Bio Sciences. 5(3): 61 – 69.

James, L. 2006. Tuberculosis Deases and Medicians Resistance. J. Appl Biomed. 1(3): 33-38.

Jumiarti, A. 2007. Kuman TBC Mematikan. Penerbit Buku Kedokteran. EGC. hal. 5-7. Jakarta. Kartasapoetra, G. 1992. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. Rineka Cipta. Jakarta.

Kartnig, T. 1988. In: Craker LE, Simon JE. (Eds.).Herbs spices and medicinal plants: recent advbances in botany, horticulture and pharmacology, vol. 3, Oryx Press: Phoenix, AZ; 145-173.

Lourpuksa, A. 1988. Obat Herbal 100% Alami Tanpa Bahan Kimia dalam http://kesehatanalami.com/obat_herbal_afia fit.php. (diakses 9 Maret 2015).

Mohammad, S.1, Zin N.M., Wahab H.A, Ibrahim P, Sulaiman S.F, Zahariluddin A.S, Noor S.S. 2011. Antituberculosis potential of some ethnobotanically selected Malaysian plants. J

Ethnopharmacol. 2011 Feb 16. 133(3): 1021-6. Oliver, B. 1986. Bep: Medicinal Plants in tropical West Africa. Cambridge: Cambridge University Press.

Rhee, J.C. dan Choi, K.W. 1981. Korean J. Gastroenterol.13 : 35 - 40.

Rostinawati, T. 2008. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol dan Ekstrak Air Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap Mycobacterium tuberculosis Galur Labkes-026 (Multi Drug Resisten) dan L.) dan Mycobacterium tuberculosis Galur H37Rv Secara In Vitro. Penelitian Mandiri. Fakultas Farmasi Uniersitas Padjajaran. Shin, H.S. et al. 1982. Korean J. Gastroenterol.14 : 49 - 56.

Sudarsono, D., Gunawan, dan Wahyono. 2002. Centella Asiatica dalam : Tumbuhan Obat II. Pusat Study Obat Traditional. UGM. Yogyakarta.

Zaleskis, R. 2006. Adverse Effects of Antituberculosis Chemotherapy. European respiratory disease 2006; 47-49.

Published

19-10-2016

Issue

Section

Artikel