REKONSTRUKSI KIDUNG BANYU PITU DALAM UPACARA SELAMATAN MEMIT
DOI:
https://doi.org/10.36456/JBN.vol7.no2.10140Keywords:
rekonstruksi, kidung banyu pitu, upacara memitu, tradisiAbstract
Kidung Banyu Pitu merupakan salah satu kesenian tradisional yang berkembang di Desa Kedokan Agung, Kecamatan Kedokan Bunder, Kabupaten Indramayu. Kesenian ini memiliki keterkaitan erat dengan upacara selamatan Memitu atau Nujuh Bulanan yang mengandung nilai spiritual dan simbolis dalam kehidupan masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman dan pergeseran budaya, praktik Kidung Banyu Pitu mengalami perubahan baik dalam bentuk penyajian maupun maknanya. Artikel ini bertujuan untuk merekonstruksi Kidung Banyu Pitu dengan mempertahankan esensi budaya serta menyesuaikan dengan dinamika masyarakat modern. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan historis dan analisis semiotik guna mengungkap makna yang terkandung dalam Kidung Banyu Pitu serta relevansinya dengan nilai-nilai Islam dan kearifan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi Kidung Banyu Pitu dapat dilakukan dengan tetap mempertahankan unsur religiusnya sekaligus menyederhanakan prosesi agar tetap relevan dan diterima oleh masyarakat kontemporer.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Jurnal Budaya Nusantara

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.











