PENGEMBANGAN ANGKUTAN UMUM MASSAL BERBAGAI ALTERNATIF UNTUK MENGATASI KEMACETAN LALU LINTAS DI KOTA MADYA MALANG
DOI:
https://doi.org/10.36456/waktu.v8i2.845Keywords:
angkutan umum, load factor, headway, angkutan massal.Abstract
Jumlah armada dengan rute yang saling tumpah tindih akan mengakibatkan terjadinya
kemacetan di beberapa lokasi pusat kegiatan masyarakat. Pada trayek ADL terjadi penumpukan armada
dengan armada yang lain yang melewati rute yang sama seperti pada daerah Dinoyo.
Daerah ini mempunyai akses langsung ke daerah pariwisata di kota Batu dan sekitarnya sehingga yang
terjadi adalah mix traffic. Trayek yang melewati daerah Dinoyo terdiri dari trayek ADL, AL,
LDG, LG, GL, AMG, JDM, CKL dan JPK. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan jasa angkutan umum
maka pelayanan angkutan umum dengan jenis mikrolet akan menimbulkan
masalah karena tidak mempunyai kemampuan angkut yang tinggi. Trayek ADL dengan armada yang
berjumlah 124 kendaraan perlu ditinjau kembali keberadaannya sehingga dapat dilaku kan
perencanaan angkutan massal untuk menuju kondisi angkutan umum yang efektif dan efisien.
Metode pengumpulan data dengan survei primer dan survei sekunder. Analisis data menggunakan rumus
dan pedoman teknis dari Dirjenhubdat 1996.
Hasil yang diperoleh adalah nilai load factor sebesar 127,273 %>100 %, dan nilai standar kenyamanan
yang belum memenuhi kondisi yang ideal yaitu 0,251<0,3–0,55 m2. Hal ini mengindikasikan angkutan
umum trayek ADL cukup dibutuhkan oleh masyarakat, tetapi kualitas/mutu pelayanan ditinjau dari
fungsi kenyamanan belum memenuhi persyaratan, terutama
pada saat peak hour. Kecepatan perjalanan berada dibawah standar yang seharusnya, hal ini
disebabkan oleh adanya hambatan dalam perjalanan berupa lampu lalu lintas, kegiatan land use
di sekitar jalan yang dilewati atau perilaku sopir yang memperlambat kendaraan untuk menaikkan
atau menurunkan penumpang. Nilai Headway dibawah nilai ideal yaitu sebesar 1,179 menit. Hal ini
menunjukkan jumlah armada yang beroperasi terlalu banyak sehingga perlu dilakukan pengurangan
jumlah armada pada trayek ADL untuk dialokasikan pada trayek lain yang membutuhkan atau dilakukan
perencanaan angkutan massal di Kotamadya Malang sehingga diperoleh angkutan umum yang efektif dan
efisien.
Dari hasil perencanaan angkutan massal diperoleh model kapasitas 25 penumpang sejumlah
15 trip kendaraan dengan waktu tunggu penumpang sebesar 2,11 menit, model kapasitas 28 penumpang
sejumlah 13 trip kendaraan dengan waktu tunggu penumpang sebesar 2,363 menit, model kapasitas 32
penumpang sejumlah 12 trip kendaraan dengan waktu tunggu penumpang
sebesar 2,7 menit.
References
........, 1996, Pedoman Teknis Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Umum di Wilayah
Perkotaan dalam Trayek Tetap dan Teratur, Dephub, Jakarta: Dijenhubdat.
........, 1997, Perencanaan Sistem Angkutan Umum (Public Transport System Planning), Modul
Pelatihan LPM, Bandung: ITB.
Abubakar, Iskandar, 1996, Menuju Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang Tertib, Dirjenhubdat,
Jakarta: PT. Bukit Mayana.
Armstrong, Alan, Urban Transyt Systems–Guidelines for Examining Options, World Bank
Technical Papers Number 52.
Burhamtoro, 2001, Penentuan Kapasitas Optimum Angkutan Umum Kota Studi Kasus: Jalur
Arjosari – Gadang Kota Malang, Tesis, Surabaya: ITS.
Kadiyali, L.R., 1978, Traffic Engineering and Transport Planning, New Delhi: Khanna Publisher.
Tamin, Ofyar Z., 2000, Perencanaan dan Pemodelan Transportasi, Bandung: ITB.
Vuchic, Vucan R., 1981, Urban Public Transportation System and Technology, New Jersey:
Prentice Hall.
Warpani, Suwardjoko, 1990, Merencanakan Sistem Angkutan, Bandung: ITB.










