Kondisi Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Kawasan Lembah Pandawa Kabupaten Pasuruan
DOI:
https://doi.org/10.36456/jf0ve911Abstract
Kawasan Wisata Lembah Pandawa di Kabupaten Pasuruan merupakan kawasan rekreasi berbasis ruang terbuka yang berkembang dengan memanfaatkan kondisi bentang lahan perdesaan dan perbukitan. Pemanfaatan lahan pada kawasan wisata ini memerlukan perhatian terhadap karakteristik fisik wilayah agar tidak menimbulkan permasalahan lingkungan maupun risiko keselamatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Satuan Kemampuan Lahan (SKL) sebagai dasar evaluasi kesesuaian pemanfaatan lahan kawasan wisata Lembah Pandawa. Metode penelitian yang digunakan meliputi analisis spasial terhadap parameter fisik lahan, yaitu kemiringan lereng, ketinggian wilayah, dan curah hujan, yang selanjutnya diintegrasikan dalam peta SKL. Hasil analisis menunjukkan bahwa kawasan kajian didominasi oleh kemiringan lahan landai hingga menengah dengan curah hujan cukup tinggi dan ketinggian wilayah yang membentuk iklim mikro sejuk. Kondisi tersebut secara umum mendukung pengembangan aktivitas wisata, namun pada beberapa bagian kawasan terdapat keterbatasan lahan yang memerlukan pengelolaan khusus, terutama terkait pengendalian lereng dan sistem drainase. Oleh karena itu, penerapan pengelolaan kawasan berbasis Satuan Kemampuan Lahan diperlukan untuk menjamin keselamatan pengunjung serta keberlanjutan pengembangan Kawasan Wisata Lembah Pandawa.
References
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2017). Pedoman teknis penilaian risiko bencana. Jakarta: BNPB.
Bappenas. (2010). Rencana aksi nasional pengurangan risiko bencana. Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional.
FAO. (1976). A framework for land evaluation. FAO Soil Bulletin No. 32. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Hardiyatmo, H. C. (2012). Tanah longsor dan erosi: Kejadian dan penanganan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Karnawati, D. (2005). Bencana alam gerakan massa tanah di Indonesia dan upaya penanggulangannya. Yogyakarta: Jurusan Teknik Geologi, Universitas Gadjah Mada.
Kementerian PUPR. (2015). Pedoman penanganan longsor pada infrastruktur jalan. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Marga.
Liu, C., Li, W., Wu, H., & Chen, X. (2021). Rainfall-induced landslide susceptibility assessment using GIS-based models. Natural Hazards, 105(2), 1237–1258.
Montgomery, D. R., & Dietrich, W. E. (1994). A physically based model for the topographic control on shallow landsliding. Water Resources Research, 30(4), 1153–1171.
Muntohar, A. S. (2009). Pengaruh hujan terhadap kestabilan lereng tanah vulkanik. Jurnal Teknik Sipil, 16(3), 145–154.
Muntohar, A. S., & Liao, H. J. (2010). Rainfall infiltration induced landslides in volcanic soil: A case study in Indonesia. Environmental Geology, 59(7), 1507–1521.
Rachmawati, N., Suryolelono, K. B., & Karnawati, D. (2011). Karakteristik longsoran pada daerah gunungapi di Indonesia. Jurnal Geologi Indonesia, 6(2), 73–84.
Sidle, R. C., & Ochiai, H. (2006). Landslides: Processes, prediction, and land use. Washington, DC: American Geophysical Union.
Sopiah, S. (2020). Pengembangan pariwisata berbasis lingkungan di kawasan wisata alam. Jurnal Pariwisata, 7(2), 85–96.
Sukartaatmadja, Y., dkk. (2010). Pengaruh curah hujan terhadap kestabilan lereng di daerah pegunungan. Bandung: Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI.
Susanto, H., & Satrya, D. (2023). Analisis daya dukung lingkungan kawasan wisata alam pegunungan. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 18(1), 45–58.
Van Westen, C. J., Rengers, N., & Soeters, R. (2003). Use of geomorphological information in indirect landslide susceptibility assessment. Natural Hazards, 30(3), 399–419.
Wischmeier, W. H., & Smith, D. D. (1978). Predicting rainfall erosion losses: A guide to conservation planning. Washington DC: USDA.










